Pengampunan Dapat Mengubah Hidup
"Terima kasih Tuhan" seharusnya bukan sekadar ucapan di bibir saat keadaan sedang baik. Jika kita memperhatikan kehidupan Yesus, kita akan menemukan bahwa ucapan syukur-Nya tidak bergantung pada hal-hal lahiriah, melainkan mengalir dari kekuatan hidup yang terhubung dalam dengan Bapa di Surga. Hal ini terlihat paling jelas dalam tiga peristiwa berikut:
- Mengucap Syukur di Tengah Kekurangan
Menghadapi ribuan orang yang lapar, Yesus hanya memegang lima roti dan dua ikan. Murid-murid melihat "kekurangan", tetapi Yesus justru "menengadah ke langit dan mengucap syukur". Ia bukan bersyukur karena kemiskinan itu, melainkan karena pemeliharaan Tuhan.
- Penerapan Kehidupan: Suatu pagi, seorang ibu tunggal membuka kulkas dan hanya menemukan setengah botol susu dan sepotong roti. Ia berkata dalam hati, "Ini tidak cukup!" Namun, ia teringat doa kedua anaknya malam sebelumnya: "Terima kasih Tuhan atas berkat makanan kami setiap hari." Maka, ia berkata dengan lembut, "Tuhan, terima kasih!" Ia membagi susu yang sedikit itu ke dalam dua gelas, memanggang rotinya hingga harum, dan anak-anak makan dengan gembira. Meski jumlah makanan tidak bertambah, hatinya menjadi tenang. Ia beralih dari "menghitung kekurangan" menjadi "memandang penyediaan Tuhan". Mengucap syukur adalah cara pandang yang seperti ini.
- Mengucap Syukur di Tengah Penderitaan
Pada Perjamuan Terakhir, Yesus tahu benar bahwa Ia akan menghadapi pengkhianatan dan salib. Di saat kegelapan itu, Ia tetap mengambil roti dan "mengucap syukur". Ia bukan bersyukur atas penderitaan itu sendiri, melainkan karena keyakinan akan makna penebusan di balik penderitaan tersebut.
- Penerapan Kehidupan: Seorang saudari penderita polio telah mengalami penolakan sejak kecil karena keterbatasan fisiknya. Ia pernah bertanya kepada Tuhan, "Mengapa aku dilahirkan untuk menderita?" Sampai akhirnya ia mendengar kisah bagaimana Yesus tetap percaya kepada Tuhan di tengah penderitaan-Nya. Ia pun menyadari bahwa penderitaannya bukanlah tanda penolakan Tuhan, melainkan cara Tuhan untuk menyertainya. Kemudian, ia menjadi pendoa syafaat di gereja dan menghibur banyak orang melalui kehidupannya yang ". Mengucap syukur adalah kekuatan yang seperti ini.
- Mengucap Syukur di Tengah Penantian
Saat Lazarus telah meninggal selama empat hari dan semua orang berputus asa, Yesus berkata sebelum mujizat terjadi: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku." Ini adalah kepercayaan di saat "tidak melihat" apa-apa.
- Penerapan Kehidupan: Bayangkan Anda berdiri di stasiun kereta api yang terpencil di tengah malam yang gelap gulita. Anda tidak tahu kapan kereta akan datang, bahkan ragu apakah kereta itu akan muncul. Namun, saat Anda tidak bisa melihat apa pun, Anda mendengar getaran rel yang samar dari kejauhan. Kereta memang belum tiba, tetapi Anda tahu ia sedang mendekat. Menunggu tetaplah menunggu, tetapi bukan lagi penantian yang sia-sia. Mengucap syukur adalah kepercayaan yang seperti ini.
Kesimpulan: Mengucap Syukur adalah Wujud Iman
Hari ini, Yesus juga mengundang kita untuk hidup demikian: mengucap syukur dalam kekurangan karena Tuhan akan memelihara; mengucap syukur dalam kesulitan karena kehendak Tuhan lebih tinggi dari perasaan manusia; dan mengucap syukur dalam penantian karena Tuhan sedang bekerja.
Saat Anda mempelajari ucapan syukur semacam ini, ia akan perlahan-lahan mengusir rasa takut dari hati Anda, sehingga Anda tidak lagi diseret oleh keadaan, melainkan dituntun maju oleh pengharapan.
本文章中文版連結:感恩之路
Oleh: Lau Chi Chuen
Menyunting: Kristanti







