Chuxia Memilih Tetap Tinggal di Venezuela

Chuxia Memilih Tetap Tinggal di Venezuela

Proofread: Kristanti

Pada dini hari 3 Januari, Chuxia Zhou yang berada di Venezuela menerima telepon dari adiknya, yang memberitahukan bahwa telah terjadi bentrokan di ibu kota Caracas, dengan suara tembakan dan ledakan di mana-mana. Awalnya, dia mengira itu hanyalah lelucon selama perayaan Tahun Baru—banyak orang salah mengira suara ledakan dan cahaya di langit malam hanyalah kembang api. Namun ketika dia melihat langsung siaran berita, barulah dia yakin itu adalah perang yang nyata. Saat itu, dia berdoa memohon belas kasihan Tuhan atas tanah ini dan agar korban dapat diminimalkan.

Guncangan Politik dan Ekonomi

Chuxia pindah ke Venezuela bersama keluarganya pada usia 14 tahun, dan setelah menikah, dia bersama suaminya menjalankan bisnis grosir. Selama bertahun-tahun, dia menyaksikan secara langsung luka yang ditimbulkan oleh ketidakstabilan politik: kelompok bersenjata menembaki para demonstran, militer menindak mahasiswa dengan kekerasan, dan kecurangan pemilu membuat rakyat kehilangan kepercayaan. Dia menggambarkan situasi negara itu seperti roller coaster.

Pada masa ekonomi paling tidak stabil, mata uang mengalami depresiasi sangat cepat. Lebih parah lagi, terjadi kelangkaan bahan pokok; pernah beberapa bulan hampir seluruh negara tidak bisa membeli minyak goreng. Suatu kali, terdengar kabar bahwa toko mereka menjual minyak goreng, ratusan orang berbondong-bondong mengantre di luar toko, situasi mulai tidak terkendali, hingga akhirnya lebih dari 20 polisi bersenjata harus turun tangan untuk meredakan kekacauan. Pengalaman ini membuatnya menyadari betapa rapuhnya kemanusiaan dan keamanan di tengah kekurangan dan ketidakpastian ekstrem.

Pada puncak gejolak politik, banyak bisnis disegel atau properti mereka disita oleh pemerintah. Banyak orang Tionghoa meninggalkan Venezuela; ada yang kehilangan seluruh harta, ada pula yang memulai kembali di negara lain, bahkan ada yang terjun dalam pelayanan. Hal ini membuatnya memahami bahwa Tuhan tidak ingin mengambil segala sesuatu dari kita, tetapi memimpin orang pada waktu yang berbeda ke dalam rencana-Nya.

Pasangan suami istri dengan satu hati memilih untuk tetap tinggal di Venezuela.

Keputusan Penuh Iman untuk Kembali

Selama bertahun-tahun, banyak orang menyarankan dia untuk pergi, tetapi dia tetap tinggal karena dia tahu Tuhan tidak memanggilnya pergi. Kemudian, demi masa depan putri sulungnya, dia sempat pergi ke New York dan merasakan sistem dukungan yang lebih lengkap di sana, yang sempat membuat hatinya goyah. Putri bungsu dan putra kecilnya memiliki kebutuhan khusus karena lahir prematur dan demam tinggi; banyak orang beranggapan tinggal di Amerika akan lebih baik. Namun setelah berdoa dan berdiskusi dengan suaminya, dia memutuskan untuk kembali ke Venezuela. Karena dia tidak mendengar Tuhan memanggilnya untuk tetap tinggal, dan dia tidak ingin meninggalkan suaminya sendirian; dia sangat memahami bahwa pernikahan ini adalah yang telah Tuhan persiapkan untuknya, dan mereka seharusnya berjalan bersama.

Melihat kembali semua ini, Chuxia tidak merasa tahun-tahun tersebut penuh penderitaan, sebaliknya hatinya penuh rasa syukur. Dia percaya bahwa hidup yang penuh gejolak membuat seseorang lebih waspada dan bergantung pada Tuhan. Semua ini bukan berasal dari kemampuan dirinya, tetapi dari kasih karunia Tuhan. Dia yakin, hanya dengan menyerahkan hidup kepada Yesus, seseorang bisa menemukan kedamaian dan kekuatan sejati di tengah ketidakpastian.

Anak-anaknya telah dibaptis. 

本文章中文版連結:楚霞選擇留在委內瑞拉

楚霞錄音訪問:【號角聲】第237集 周楚霞 在委內瑞拉的信靠

Text:Ellen Chan

Proofead:Kristanti

Comments are closed.