Pengampunan Dapat Mengubah Hidup
Setiap orang pernah terluka. Ada yang disalahpahami, diabaikan, atau disakiti. Pengampunan sering kali menjadi langkah yang paling sulit untuk kita ambil.
Sejak lahir, Jen Taggart menderita cerebral palsy. Ia mengalami kesulitan berjalan dan gerakannya kaku. Ketika orang-orang di gereja melihat kecacatannya, ada yang mengatakan bahwa ia kurang iman, ada yang menyiratkan bahwa ada dosa dalam hidupnya, bahkan ada yang bertanya apakah ia belum mengampuni seseorang. Seolah-olah disabilitasnya bukan masalah medis, melainkan masalah rohani. Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk hatinya dan membuatnya meragukan dirinya sendiri, seakan-akan ia tidak cukup baik.
Namun suatu hari, saat berdoa, ia mendengar Tuhan berkata: “Anak-Ku, engkau bukan dihukum, engkau dikasihi.” Ia pun mengerti bahwa disabilitas adalah bagian dari hidupnya. Sejak saat itu ia belajar mengampuni—mengampuni orang-orang yang tidak memahaminya, mereka yang mengira sedang menolong tetapi justru melukainya. Hari ini, ia menjadi seorang penulis dan advokat/pengacara bagi penyandang disabilitas.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa pengampunan bukan berarti menyangkal adanya luka, melainkan tidak membiarkan luka itu menentukan siapa diri kita.
Dimulai dari Belas Kasihan
Seorang perempuan yang dianggap sebagai pendosa datang kepada Yesus sambil menangis. Ia mengurapi kaki Yesus dengan minyak wangi. Orang-orang di sekitarnya hanya melihat masa lalunya, tetapi Yesus melihat pertobatannya dan berkata kepadanya, “Dosamu telah diampuni.”
Yesus terlebih dahulu menerima, lalu memulihkan.
Pengampunan bukan diberikan karena seseorang layak menerimanya, melainkan karena hati orang yang mengampuni dipenuhi belas kasihan.
Membawa Pemulihan
Seorang wanita yang tertangkap berzina dibawa ke hadapan Yesus. Orang banyak, menurut hukum Taurat, siap melemparinya dengan batu sampai mati. Tetapi Yesus berkata, “Siapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepadanya.”
Satu per satu orang-orang itu pergi.
Lalu Yesus berkata kepadanya, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.”
Yesus terlebih dahulu memulihkan martabatnya, kemudian menuntunnya menuju hidup yang baru.
Pengampunan yang sejati bukan sekadar “tidak menuntut kesalahan”, tetapi memberi seseorang kesempatan untuk memulai kembali.
Tidak Mengenal Batas
Yesus melihat pemungut cukai bernama Matius, seorang yang diberi label buruk oleh masyarakat. Namun Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”
Di mata Yesus, tidak ada orang yang terlalu kotor atau tidak layak untuk diampuni.
Pengampunan tidak dibatasi oleh tradisi, batasan sosial, ataupun batasan agama.
Biarkan Pengampunan Menjadi Kekuatan Hidup
Jangan mengira bahwa karena kita tidak cukup baik, sehingga kita tidak layak dikasihi. Pengampunan dari Tuhan bukanlah hadiah karena prestasi, melainkan pemberian kasih karunia, karena kasih-Nya begitu dalam.
Yesus juga mengundang kita untuk membawa pengampunan ini ke dalam kehidupan sehari-hari: mengampuni keluarga agar kasih dapat kembali mengalir; mengampuni sahabat agar hubungan dapat dipulihkan; mengampuni rekan kerja agar hati yang tertekan dapat dilepaskan.
本文章中文版連結:寬恕能改變人生
Oleh: Lau Chi Chuen
Menyunting: Kristanti






