Menjalani Hidup yang Diberkati dengan Memberi

Menjalani Hidup yang Diberkati dengan Memberi

Pukul tujuh pagi, peron kereta bawah tanah sudah dipenuhi orang. Semua orang sedang terburu-buru—mengejar waktu untuk pergi bekerja, pergi ke sekolah, dan menjalani kehidupan.

Hong Kong adalah kota yang berpusat pada kata “mendapatkan”: mendapatkan promosi, gaji tinggi, kesempatan, jaminan, dan kesuksesan. Kota ini seolah-olah mengajarkan orang, “Untuk bertahan hidup, kita harus mendapatkan lebih banyak lagi”

Namun, hati sering kali tetap merasa hampa, lelah, dan kesepian. Di kota seperti ini, perkataan Yesus, “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kisah Para Rasul 20:35), terdengar hampir bertentangan dengan budaya yang berlaku. Akan tetapi, perkataan ini bukan berarti kita harus “merugi”, melainkan mengundang kita untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna—kehidupan yang menemukan sukacita melalui memberi.

Memberi dan Melayani di Zaman Modern

Di zaman sekarang, ada banyak orang yang mengalami berkat melalui kehidupan yang penuh dengan pemberian. Cameron Horner, seorang pemuda Amerika, mengalami cedera tulang belakang akibat kecelakaan saat menyelam, yang membuatnya lumpuh permanen dari dada ke bawah. Di tengah masa-masa tergelap saat terbaring di ranjang rumah sakit, ia justru mengalami damai sejahtera yang diberikan Tuhan dan menerima pengingat bahwa “Tuhan belum selesai berkarya”. Setelah keluar dari rumah sakit, ia belajar menjalani hidup kembali, menyesuaikan diri menggunakan kursi roda, dan memandang dirinya dengan cara yang baru.

Keterbatasan fisiknya justru membuatnya semakin peka terhadap penderitaan orang lain. Ia hadir di tengah kaum muda, orang sakit, dan penyandang disabilitas, serta menguatkan mereka melalui pengalamannya sendiri:

  • Mendampingi dan Mendengarkan: Kehadiran yang tulus menjadi penghiburan bagi orang lain.
  • Kekuatan dalam Kelemahan: Keterbatasan fisik justru menjadi dorongan untuk terus melangkah maju.
  • Kesaksian Hidup: Kehidupan dan kisahnya sendiri menjadi sumber kekuatan.

Kehidupan Cameron mengingatkan kita bahwa kebahagiaan dalam memberi tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang dapat kita lakukan, melainkan oleh seberapa besar kita bersedia dipakai oleh Tuhan.

Menjadi Saluran Kasih Karunia

Memberi mendatangkan berkat karena tindakan ini menolong kita keluar dari sikap mementingkan diri sendiri dan menjadi kesaksian yang bertentangan dengan budaya kota yang sibuk mengejar “mendapatkan”. Memberi juga membuat kita semakin serupa dengan Kristus—hidup-Nya merupakan pemberian yang sempurna. Ketika kita hadir untuk memenuhi kebutuhan orang lain, mendampingi mereka dalam kelemahan, dan turut memikul beban mereka, kita sedang mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan dan menjadi saluran kasih karunia-Nya.

Kiranya kita menjadi mata bagi orang buta, kaki bagi orang lumpuh, bapa bagi anak yatim, dan penghibur bagi para janda di negeri ini. Kiranya memberi bukan menjadi beban, melainkan cara hidup kita dalam berjalan bersama Tuhan.

本文章中文版連結:活出施予的得福人生

Penulis: Lau Chi-chuen

Diperiksa oleh: Kristanti

Comments are closed.