Sang Pencipta Kedamaian
Suatu ketika, saya mengalami sebuah peristiwa yang tidak terlupakan di jalanan Mong Kok. Hari itu, saya mendorong kursi roda menyusuri Jalan Argyle. Hujan gerimis turun, sementara orang-orang berlalu-lalang dengan ramai, membuat saya merasa begitu lambat dan canggung di tengah kerumunan. Kursi roda saya terguncang-guncang di permukaan jalan yang tidak rata, dan setiap kali harus berbelok, saya membutuhkan tenaga yang cukup besar.
Saya tahu saya mengambil ruang, dan saya juga tahu orang-orang di belakang saya sedang terburu-buru. Ketika saya berusaha mendorong kursi roda sedikit lebih cepat, tetapi pada saat yang sama takut menabrak orang yang lewat, terdengar keluhan di telinga saya, “Menghalangi saja...” dan “Jalan lebih cepat!”
Suara-suara itu sebenarnya tidak keras, tetapi terasa seperti jarum kecil yang menusuk hati saya. Bukan kemarahan yang saya rasakan, melainkan rasa bersalah—seolah-olah saya telah menjadi penghalang bagi orang lain. Saat itu, dalam hati saya berkata, “Saya sudah berusaha sebaik mungkin.” Namun, saya tidak mengatakannya.
Ketika saya tidak tahu harus berbuat apa, seorang perempuan muda keluar dari tengah kerumunan. Ia tidak memarahi ataupun mendesak saya. Ia hanya bertanya, “Bolehkah saya membantu mendorong kursi roda ini?”
Sambil mendorong kursi roda saya, ia berkata kepada orang-orang di belakang, “Mohon tunggu sebentar. Tidak mudah baginya.” Langkah kaki yang semula tergesa-gesa pun melambat. Ada yang memberi ruang dan berkata dengan lembut, “Pelan-pelan saja.” Saya memandang perempuan itu. Tatapannya penuh rasa hormat dan pengertian. Saya pun mengucapkan terima kasih dengan lembut.
Di tengah kota yang bergerak begitu cepat, ada seseorang yang bersedia berhenti sejenak untuk melihat saya—bukan sekadar melihat kursi roda saya, tetapi melihat saya sebagai seorang manusia. Saat itu saya mengerti: konflik sering kali bukan terjadi karena kita berbeda, melainkan karena kita tidak melihat dibalik kisah hidup orang lain.
Kehidupan manusia modern bergerak begitu cepat sehingga kita mudah menganggap tindakan orang lain sebagai gangguan. Namun, ketika seseorang bersedia berhenti sejenak dan mengulurkan tangan untuk membantu, dunia dapat menjadi berbeda. Pengertian adalah langkah pertama menuju kedamaian. Pengertian dapat mengubah hari seseorang, bahkan mengubah hatinya.
Kekuatan Kelembutan
Di dalam Alkitab, Yesus sering menunjukkan kepada manusia “kekuatan kelembutan.” Zaman ketika Yesus hidup juga dipenuhi tekanan politik, perpecahan sosial, konflik agama, serta kesenjangan antara kaya dan miskin. Namun, Yesus tidak mengalahkan orang lain dengan suara yang keras. Ia meredakan permusuhan dengan kelembutan dan memulihkan hubungan melalui pengertian.
Suatu ketika, seorang perempuan yang dianggap masyarakat telah melakukan perzinahan dikerumuni dan diserang oleh orang banyak. Yesus tidak ikut menuduhnya, tetapi menolong perempuan itu melihat kembali nilai dirinya. Ia berkata, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.”
Ini bukan berarti menganggap dosa sebagai sesuatu yang benar, melainkan menunjukkan penerimaan. Bahkan ketika seseorang berada dalam keadaan yang hancur, ia tetap layak dihormati dan dilihat sebagai manusia, serta memiliki kesempatan untuk memulai kembali.
Yesus masuk ke tengah kehancuran dan konflik manusia, dan melalui kehidupan-Nya menunjukkan bagaimana menjadi “pencipta kedamaian.” Perspektif iman ini mengingatkan kita bahwa sekalipun keadaan di sekitar kita rumit, kita tetap dapat memilih untuk menjadi pencipta kedamaian, bukan memperpanjang konflik.
Membentuk Kebiasaan Membawa Kedamaian
Untuk mengurangi ketegangan dan permusuhan di antara manusia, kita dapat membentuk tiga kebiasaan:
(1)Perlambat reaksi kita: Berhentilah sejenak dan pikirkan dampak dari perkataan kita. Satu detik tambahan dapat membantu mencegah kesalahpahaman.
(2)Tanyakan “mengapa” sebelum menilai “benar atau salah”: Memahami alasan dan motivasi seseorang lebih mampu membangun kedamaian daripada terburu-buru menilai pendiriannya.
(3)Pilih kelembutan daripada kekerasan : Kelembutan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, kelembutan adalah kekuatan yang membuat orang lain bersedia mendengarkan kita.
Kiranya di tengah konflik kita tetap memilih untuk memahami, dan di tengah permusuhan kita tetap memilih untuk bersikap lembut. Mungkin, inilah berkat terdalam yang dapat kita bawa bagi dunia.
本文章中文版連結:和睦的創造者
Oleh: Lau Chi Chuen
Menyunting: Kristanti








